Setelah Lokalisasi Ditutup OPSI : PSK Sulit Terdekteksi, HIV/AIDS Menyebar

INDONESIASATU.CO.ID:

JAKARTA--Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) yang merupakan jaringan nasional pekerja seks di Indonesaia merasa perlu menyampaikan dampak yang ditimbulkan dari penutupan lokalisasi terkait upaya penanggulangan HIV/AIDS serta hak-hak pekerja seks dalam mendapatkan layanan dasar yang ada.

Dalam diskusi di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Cipinang Besar Utara, Jakarta Timur, Jumat (19/4) emarin, kordinator pengorganisasian OPSI Nasional, Arina mengatakan keberadaan pekerja seks menyebar ke berbagai tempat baru menjadi sulit dijangkau oleh petugas kesehatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). 

Padahal sebelum lokalisasi ditutup, intervensi perubahan perilaku dilakukan dengan memberikan informasi dasar HIV dan Infeksi Menular Seksual.

”Setelah penutupan petugas kesehatan maupun LSM mempunyai keterbatasan jangkauan dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS serta hak-hak pekerja seks untuk mendapatkan layanan dasar,” kata Arina,  

Menurut arina, pemerintah perlu memberikan perhatian dan mengoptimalkan pencegahan HIV pada pekerja seks. Upaya ini bisa dilakukan dengan memberikan fasilitas bagi komunitas pekerja seks untuk memperkuat kapasitas tokoh sebaya melakukan penjangkuan, serta pengembangan sistem informasi dan pendataan hingga ke tingkat Rukun Tetangga (RW) di masyarakat.

Diskusi upaya penanggulangan HIV/AIDS juga dihadiri komunitas waria. Mereka meminta agar media massa tidak terlalu mendiskreditkan komunitasnya dalam pemberitaan permasalahan sosial kaum waria

”Kesel banget deh gara gara diberitain padahal ga bener faktanya” kata Uci, dari komunitas waria.

Sementara itu, Advokasi OPSi Jakarta Timur, Cime yang juga pengurus komunitas Jingga menyatakan berdasarkan data Suku Dinas Kesehatan setempat, selama dua tahun terakhir ada kepedulian waria untuk pencegahan HIV/ AIDS melalui pemeriksaaan kesehatan. 

Dari 96.728 orang setelah pemeriksaan tercatat 1.551 positif HIV dan menjalani perawatan sebanyak 1.900. Kemudian, 953 mendapat terapi obat HIV. (heriyoko/emf)

  • Whatsapp

Index Berita